Bagaimana jika Seseorang pergi tanpa meninggalkan pesan?

Jika ada orang yang pergi meninggalkan rumah dan tidak diketahui lagi keberadaannya dalam waktu lama, maka tindakan yang dapat diambil:

  1. Lapor dan minta bantuan polisi untuk mencarinya. Ada kemungkinan yang bersangkutan menjadi korban kecelakaan lalu litas, korban tindak pidana atau kehilangan ingatan. Sebaiknya saat melapor bawa foto terakhir yang bersangkutan. Dalam membuat laporan berikan gambaran detil ciri-ciri yang bersangkutan. Misal: jenis kelamin, warna kulit, tinggi badan, warna pakaian, usia.
  2. Mempublikasikan: melalui media massa, brosur, milis dan segala bentuk media komunikasi lain.

Jika yang bersangkutan lama kembali maka pengaturan mengenai harta yang ditinggalkan jika yang bersangkutan tidak meninggalkan kuasa atau kuasanya sudah tidak berlaku lagi:

  1. Harta akan dikelola oleh Balai Harta Peninggalan
  2. Pengadilan dapat menunjuk 1 orang atau lebih dari keluarga untuk mengelola harta tersebut.

Jika telah lewat lima tahun dan orang itu tidak kembali maka dapat diduga orang itu  telah meninggal dunia. Apalagi jika dalam tempo lima tahun itu tidak ada tanda-tanda orang itu masih hidup. Tanda masih hidup misal: telepon, sms, surat, ada orang yang melihatnya di suatu tempat dan sebagainya.

  • Pihak yang berkepentingan dapat meminta Pengadilan melakukan pemangggilan umum untuk jangka waktu 3 bulan. Jika dalam tempo 3 bulan ia belum juga muncul maka harus dilakukan pemanggilan kedua dan ketiga. Pemanggilan dilakukan melalui media massa selain pengumuman di Pengadilan.
  • Jika kita mau mengajukan pemanggilan  maka kita harus membuat surat permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri di wilayah tempat kediaman orang itu. Surat permohonan itu didaftarkan di kepaniteraan perdata.

Perkiraan biaya panjar:

Permohonan Rp 615.000

Pemanggilan melalui media massa @ Rp 1.500.000

  • Jika setelah ketiga pemanggilan itu yang bersangkutan tidak juga hadir maka Pengadilan dapat memutus bahwa orang itu dinyatakan telah meninggal dunia terhitung sejak hari ia meninggalkan tempat tinggalnya. Pengadilan dapat menunda pengambilan keputusan dan memerintahkan pemanggilan lagi jika terdapat keraguan demi kepentingan orang yang hilang itu.
  • Jika yang bersangkutan meninggalkan surat kuasa maka jangka waktu untuk bisa mengajukan permohonan kepada pengadilan adalah sepuluh tahun.
  • Jika suami/isteri dari orang yang hilang itu tidak berpisah harta maka suami/isteri tersebut dapat mencegah selama 10 tahun untuk pembagian harta peninggalan orang yang diduga telah meninggal dunia.

Bila orang yang diduga meninggal itu kembali  setelah ada keterangan kematian dugaan, atau diperoleh tanda-tanda  bahwa ia masih dalam keadaan hidup maka mereka yang telah menikmati harta peninggalannya harus mengembalikan sebagai berikut:

a.Bila setelah 15 tahun: setengah dari nilai harta peninggalan.

b.Bila antara 15-30 tahun: seperempat dari nilai harta peninggalan.

Ketentuan itu bisa dilanggar bila ada putusan Pengadilan yang menyatakan hal pembebasan sama sekali (tidakperlu pengembalian harta, terutama bila jumlahnya sedikit).

Jika tidak ada putusan pengadilan maka jangka waktu untuk boleh menikmati harta dari orang yang hilang itu dihitung 100 (seratus) tahun sejak hari kelahiran yang bersangkutan.

Misal: orang yang hilang itu lahir 1 Maret 1967. Maka harta peninggalannya bisa dinikmati para ahli waris atau yang berkepentingan sejal 1 Maret 2067.

JIka orang itu pulang atau menunjukkan bahwa ia hidup setelah lampau tiga puluh tahun sejak putusan pengadilan, maka dia hanya berhak untuk menuntut:

  • Barang-barangnya dalam keadaan seperti adanya pada waktu itu,
  • barang-barang yang telah dipindahtangankan (ekuivalen harga)
  • Barang-barang yang telah dibeli dengan hasil pemindahtanganan barang-barang kepunyaannya.***

Leave a Reply