Cara-cara Memperoleh Hak Milik

Cara-cara Memperoleh Hak Milik:

  1. Pengambilan untuk dimiliki: misalkan Anda menemukan uang di jalan dan Anda mengambilnya. Uang itu bisa dianggap sebagai milik Anda, sampai ada pihak lain yang membuktikan bahwa uang itu adalah miliknya atau milik orang lain. Pada prinsipnya hukum mengatur bahwa barang bergerak yang bukan milik siapa pun, menjadi hak milik orang yang pertama-tama mengambil barang itu untuk dimilikinya.
  2. Perlekatan: barang-barang yang melekat pada benda milik Anda dianggap menjadi milik Anda. Jika Anda punya induk sapi dan kemudian ia mengandung maka anak sapi dalam kandungannya itu milik Anda, kecuali jika diperjanjikan bahwa karena benih sapi itu dari sapi jantan milik pihak lain maka pemilik sapi jantan itu berhak juga atas kandungan sapi betina Anda.
  3. Dengan lewat waktu: apabila Anda membuat perjanjian dengan pihak lain untuk menyimpan sesuatu barang dan ada pasal dalam perjanjian itu yang menyatakan bahwa apabila barang itu tidak diambil maka barang itu akan beralih kepemilikannya.
  4. Pewarisan: apabila Anda memperoleh barang dari pewaris. Dampak dari menerima warisan adalah juga menerima kewajiban untuk membayar hutang pewaris jika ada. Anda bisa menolak menerima warisan tersebut jika Anda tidak mau menerima kewajiban membayar hutang pewaris.
  5. Pembelian: Anda membeli barang. Perhatikan barang yang Anda beli (terutama jika membeli perusahaan), Anda mesti jelas betul hak dan kewajiban yang menyertai sebagai pemilik barang. Kerap terjadi pihak yang menjual perusahaan menyembunyikan kewajiban atau kekurangan perusahaan. Misal: kewajiban untuk membayar hak para buruh, kewajiban membayar pajak dan dendanya, benda-benda yang diduga sebagai aset perusahaan ternyata milik pihak lain, ikatan perjanjian dengan pihak lain yang tidak dikemukakan, perijinan atas badan usaha atau pekerjaan yang belum beres dan sebagainya.
  6. Hibah: Anda menerima hibah (pemberian/hadiah) dari seseorang/pihak. Yang harus Anda perhatikan adalah apakah barang yang dihibahkanitu bebas dari sengketa, kepemilikan pihak lain atau ada kewajiban yang menyertai. Misal: pajak yang besar. Anda pun harus mencermati resiko dari barang yang dihibahkan. Misal: jika yang dihibahkan sebuah bangunan yang struktur atau bahan bangunannya kurang baik kualitasnya maka Anda yang akan menjadi penanggung resiko apabila tidak memperbaiki bangunan itu. Jika seseorang tertimpa bagian dari bangunan yang menjadi milik Anda atau terperosok dari lantai dua rumah Anda karena lapuk maka Anda harus bertanggung jawab sebagai pemilik.
  7. Akibat perjanjian: jika dalam perjanjian dituliskan tentang pengalihan hak milik atas suatu barang. Pengalihan ini bisa terjadi dalam banyak jalan. Misalnya: barang dijadikan jaminan (agunan). Karena itu Anda harus amat mencermati setiap pasal dalam perjanjian terutama yang berkait dengan agunan. Jika agunan itu berupa barang tidak bergerak (tanah) maka agunan itu lebih baik dihipotekkan. Hal ini mencegah peralihan barang tanpa sepengetahuan para pihak.

Hak pemilik tanah:

1.Mengambil binatang liar/ikan di wilayah tanahnya.

2. Berhak sepenuhnya atas harta karun di tanahnya jika ia temukan sendiri.

3. berhak setengah atas harta karun di tanahnya jika yang penemu orang lain.

4. Pulau & beting di sungai yang tidak dapat dilayari rakit di wilayah tanahnya.

5. Segala sesuatu yang ditanam atau disemaikan di tanah tersebut, kecuali jika ada perjanjian dengan pihak lain.

6. Segala sesuatu yang dibangun di atas tanah tersebut, kecuali jika ada perjanjian dengan pihak lain.

Jika seseorang membangun ditanah tersebut maka pemilik tanah  berhak menuntut bangunan itu dihilangkan dari tanahnya. Dalam hal ini  biaya pembongkaran bangunan adalah tanggung jawab sepenuhnya orang yang membangun. Pemilik tanah berhak menuntut ganti rugi dan bunga apabila ada kerugian dari pemilik tanah akibat pembangunan itu. Sebaliknya jika si pemilik tanah menghendaki bangunan itu maka ia harus membayar harga bangunan disertai biaya kerja.

Hak milik atas tanah yang tenggelam karena kebanjiran tetap berada pada pemiliknya. Namun Pemerintah dapat membuat kebijakan atas tanah itu untuk dijadikan tanah Negara jika ada kepentingan umum atau untuk keamanan. Dalam hal ini Negara akan memberi ganti kerugian pada pemilik tanah yang jumlahnya ditentukan oleh negara. Normatif, penggantian minimal sesuai dengan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP), namun tidak ada ketentuan mengikat soal  ini.

Penyerahan piutang atas nama dan barang-barang lain yang tidak bertubuh dengan akta otentik atau akta di bawah tangan. Penyerahan ini tidak ada akibatnya bagi yang berutang sebelum penyerahan itu diberitahukan kepadanya atau disetujuinya secara tertulis atau diakuinya.

Semua akta penjualan, penghibahan, pembagian, pembebanan dan atau pemindahtanganan barang tak bergerak harus dibuat dalam bentuk otentik.

Sebagai pemilik barang anda berkewajiban memelihara dan menjaga barang itu agar tidak menimbulkan kerugian pada orang lain. Misal: jika Anda mempunyai anjing dan anjing itu kemudian lepas dan menggigit orang lain maka Anda harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Atau jika seseorang meminjam sepeda motor Anda yang ternyata remnya blong dan Anda tidak memberitahukan kepada yang bersangkutan, maka segala akibat hukumnya (misal: kecelakaan) adalah menjadi tanggung jawab Anda. ***

Leave a Reply