10 Skill IT yang Banyak Dicari di Tahun 2014

LinkedIn dapat menjadi alat yang ampuh untuk memperluas jaringan profesional Anda. Dengan menonjolkan kemampuan dan mendeskripsikan kehidupan pekerjaan Anda dengan baik, bukan tidak mungkin Anda mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik.

Menutup tahun 2014, LinkedIn merilis daftar keterampilan teratas (top skills) yang banyak direkrut tahun ini, yang terdapat pada profil pengguna LinkedIn. Dengan kata lain, para perekrut banyak yang mencari skill-skill tersebut.

LinkedIn menganalisis keterampilan (skill) dan data pengalaman lebih dari 330 juta profil anggota LinkedIn. Jika skill Anda ada dalam salah satu kategori daftar di bawah ini, mungkin ada kesempatan besar untuk Anda mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik.

Berikut adalah sepuluh (10) keterampilan secara global yang paling banyak dicari tahun ini.

1. Statistics Analysis and Data Mining
2. Middleware and Integration Software
3. Storage Systams and Management
4. Network and Information Security
5. SEO/SEM Marketing
6. Business Intelligence
7. Mobile Development
8. Web Architecture and Development Framework
9. Algorithm Design
10. Perl/Python/Ruby

Berhubung tahun 2014 sebentar lagi akan berakhir, dan tahun baru 2015 segera menjelang, tak ada salahnya Anda mempersiapkan diri lebih baik agar tahun depan peluang kerja baru yang lebih baik bisa menghampiri Anda via LinkedIn.

Penerus Generasi Ketiga Justru Tinggalkan Teh Sosro Demi Passionnya

Siapa yang tidak kenal Teh Sosro? Selama bergenerasi – generasi kehadirannya telah menemani Anda. Sehingga siapapun yang berada di belakangnya pastilah beruntung. Dan tentu saja, itu adalah trah Sosrodjojo. Akan tetapi, ada satu hal yang menarik. Sebagai generasi ketiga dari trah Sosrodjojo, Indra Sosrodjojo justru kini mantap menggeluti bidang lain. Yaitu bisnis software lokal. Menurutnya, ada potensi yang sangat besar disini.

 

Mengejar passion

Kecintaan Indra Sosrodjojo terhadap dunia teknologi datang ketika ia memilih kuliah di Fakultas Elektro Universitas Trisakti Jakarta pada tahun 1979. “Saya mulai tertarik terhadap dunia IT sejak kuliah di Trisakti, Jurusan Elektronika. Saat itu, mulai kenal dengan komputer dan programming, lantas lebih jauh lagi saya tertarik dari sisi otomasinya.”

Kecintaan inilah yang membuatnya mantap untuk melanjutkan bangku kuliah di Amerika Serikat dengan mengambil jurusan Managerial Information System. Barulah pada 1985, ia kembali ke Indonesia dan mulai mengembangkan bisnis software melalui PT Grahacendekia Inforindo. Pada tahun 1988, ia mengenalkan nama dagang “Andal Software” yang berkibar sampai sekarang.

Penerus Generasi Ketiga Justru Tinggalkan Teh Sosro Demi Passionnya best people  studentpreneur

Memburu model bisnis yang menjual.

Bukan berarti bisnisnya lancar sejak ia pertama kali berdiri. Indra bahkan mengaku sempat bergelut selama bertahun-tahun hanya untuk menemukan model bisnis yang bisa berkembang dengan mudah seperti sekarang ini.

“Bisnis saya sempat jatuh pada tahun 2002 karena sifat produk software yang dibuat bersifat custom,” katanya. Customberarti Anda mengerjakan setiap pesanan pelanggan satu persatu. Model seperti ini memiliki tantangan tersendiri. Semakin tinggi angka penjualan Anda, bukan berarti bisnis Anda semakin berkembang. Seringkali justru disertai dengan kewalahan waktu dan tenaga. Karena, seringkali pula, butuh waktu lama untuk menyelesaikan setiap kustomisasi.

Akhirnya, barulah pada 2004 mereka membuat produk baru yang tidak memerlukan kustomisasi, yakni “Andal PayMaster”. Produk inilah yang menurut Indra menjadi penyelamat bisnis mereka karena pertumbuhan kian naik. Hingga kini, piranti lunak dengan merek Andal sudah memiliki tempat tersendiri di pasar software nasional. Bahkan Andal Software telah memiliki lebih dari 100 klien yang berasal dari bidang pertambangan, perbankan, garmen, hotel, manufakturing dan lain-lain.

Indra menarik kesimpulan bahwa membuat produk custom tidak bisa begitu saja menaikkan market secara signifikan. Hal ini sangat kontras dengan kenyataan di lapangan. Jumlah perusahaan IT di Indonesia lebih terbilang banyak. Dari jumlah itu, mirisnya sekitar 200 – 300 perusahaan bermain di software dan 80% dari jumlah tersebut membuat software berdasarkan pesanan. Jumlah perusahaan yang membuat produk tidak lebih dari 20 perusahaan.

 

Peluang yang masih terbuka lebar

Perkembangan kebutuhan software di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. “Perkembangan kebutuhan software di Indonesia meningkat terus dari tahun ke tahun, dari 687 juta dolar Amerika di tahun lalu, akan menjadi 800 juta dolar Amerika di tahun ini, atau naik 14%,” katanya.

Belum lagi menurut data Business Monitoring International, jumlah perusahaan yang belum menggunakan IT sebesar 30 hingga 35 juta perusahaan.

“Potensi Industri TI lokal itu sangat besar, tapi sayang 90 % nya dikuasai asing, perusahaan lokal justru hanya dapat sisanya,” kata Indra menyayangkan. “Yang artinya kita tidak merasa di rumah sendiri.”

Padahal, kesempatan pasar masih terbuka lebar. “Pemain lokal harus banyak yang bermain di bisnis ini,” tambahnya.

Nah Sobat Studentpreneur, bagaimana menurut Anda? Anda merasa terpanggil? Mari berdiskusi di kolom komentar! Anda juga bisa mendapatkan informasi bisnis anak muda kreatif melalui Facebook atau Twitter Studentpreneur. [Photo Credit:  Irwandy]

Desain Busana Terinspirasi atau Menjiplak? Cermati Perbedaannya

145720_cover

Jakarta – Tren fashion selalu berputar, inspirasi rancangan pun bisa datang dari mana saja. Maka bukan hal yang aneh lagi jika rancangan antara desainer yang satu mempunyai kemiripan dengan desainer lainnya. Sebuah rancangan bisa dipertanyakan orisinalitasnya apabila terlalu banyak kesamaan baik dari segi potongan, styling hingga penempatan detail.

Ketika seorang desainer dinilai telah menjiplak karya seseorang maka bisa disebut sebagai pelanggaran hak cipta. Namun persoalan jiplak-menjiplak ini harus dicermati dengan teliti karena kreativitas berasal dari sebuah ide yang sifatnya tak kasat mata dan mungkin saja muncul secara bersamaan.

Pengacara yang juga konsultan Hak Kekayaan Intelektual, Ari Juliano Gema menjelaskan bahwa sebuah desain busana bisa dianggap memiliki hak cipta apabila ada unsur karya seni sebagai elemen pada rancangannya. Misalnya seni gambar seperti motif, atau bentuk-bentuk khas yang digunakan dalam desain tersebut.

“Tinggal dilihat saja misalnya ada satu desainer yang punya motif tertentu lalu diambil oleh pihak lain. Maka pihak tersebut dapat diduga telah melanggar hak cipta baik berupa seni gambar ataupun lukis. Dengan catatan jika itu dia ciptakan sendiri, orisinil, sesuatu yang unik yang orang lain belum pernah ciptakan,” urai Ari saat berbincang dengan Wolipop lewat telepon, Kamis (14/11/2014).

Menurut Ari lagi, sebenarnya tidak ada patokan atau indikator yang pasti untuk menyebut seseorang telah menjiplak sebuah karya atau tidak sebab batasan antara terinspirasi dan mencontek sangatlah tipis. Namun bukan berarti tidak bisa dibedakan. Orang yang terinspirasi karya desainer tertentu umumnya hanya mengambil ide namun diwujudkan dalam bentuk yang sama sekali berbeda.

Lain lagi dengan adaptasi, inilah yang lebih biasa disebut orang dengan plagiat. Adaptasi umumnya akan menghasilkan karya yang sama atau sangat mirip bentuknya. Kalaupun berbeda hanya terletak pada warna atau pemakaian materialnya.

“Misalnya ada orang gambar burung sebagai motif baju. Lalu orang lain terinspirasi membuat gambar burung juga tapi warna, ukuran juga bentuk paruh dan lain-lainnya berbeda. Cuma gambarnya burung. Kalau adaptasi ya menjiplak. Misalnya bentuk sama tapi warnanya saja dibedakan. Adaptasi harus dengan izin sementara inspirasi nggak perlu,” jelas pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.

Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Taruna K. Kusmayadi menambahkan, “Misalnya bunga mawar, warna dan jenisnya persis sama, ukuran sama, tempatnya sama, walaupun warnanya berbeda iya itu benar (menjiplak). Kalau terinspirasi atau tren nggak mungkin penempatannya sama, bahan sama, detail sama.”

Ari menegaskan, berkarier di industri kreatif sudah pasti mewajibkan seseorang untuk menjadi sekreatif mungkin. Bila sampai meniru karya orang lain, itu adalah hal substansial yang tidak baik dan jelas tidak diperbolehkan. Senada dengan Ari, Taruna juga mengimbau para pelaku industri kreatif untuk tidak menjiplak hasil kerja orang lain.

“Kalau gitu apa dong bedanya dengan penjahit,” pungkasnya.

Pusat Fashion Dunia

London: Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, London akhirnya dinobatkan sebagai pusat fashion dunia terbaru. Ibu kota Inggris itu berhasil mencapai posisi teratas dan menggeser New York ke posisi kedua dalam daftar pusat fashion dunia ini.

Seperti dilansir DailyMail.co.uk, Kamis (18/8), London juga mengalahkan kota-kota lainnya seperti Paris, Milan, dan Los Angeles dalam daftar yang dibuat oleh organisasi Global Language Monitor, pelacak tren di media cetak dan sosial. Organisasi ini menemukan London bergeser dari tempat ketiga ke pertama dalam beberapa tahun belakangan ini.

Pergeseran ini diyakini banyak dipengaruhi berkat kepopuleran ‘Duchess of Cambridge’ Kate Middleton sebagai fashionista dan kematian tragis perancang busana ternama Inggris, Alexander McQueen. McQueen bunuh diri pada Februari 2010, tetapi kerajaan modenya terus berkembang hingga saat ini.

Duchess, yang populer dengan reputasinya sebagai trendsetter fashion sejak muncul di Royal Wedding, April lalu, memilih perancang ternama Sarah Burton untuk membuat gaun pernikahannya. Sementara, beberapa pakar industri fashion percaya bahwa berakhirnya serial “Sex and The City” itu juga memberikan kontribusi untuk turunnya New York di peringkat global.(JAY/ULF)

Berikut 10 daftar kota pusat fashion di dunia:

1. London

2. New York

3. Paris

4. Milan

5. Los Angeles

6. Hong Kong

7. Barcelona

8. Singapora

9. Tokyo

10. Berlin

Studi Mengatakan, Sebaiknya Wanita Tak Mengenakan Bra

031008530780x390

Sebuah studi mengatakan bahwa memakai bra untuk melindungi dan menopang payudara bukanlah gaya hidup yang baik. Apa pasal?

Studi yang berlokasi di Perancis ini berlangsung selama 15 tahun, dan akhirnya menemukan ide baru bahwa bra bisa membahayakan wanita. “Secara medis, psikis, dan anatomi tubuh, payudara wanita tidak mendapatkan manfaat positif dari pemakaian bra. Sebab, pemakaian bra memaksa tubuh melawan gravitasi,” ujar Jean-Denis Rouillon, Profesor, University of Franche-Comté in Besançon, pada France Info dan dikutip Huffington Post.

Berlokasi di sebuah rumah sakit universitas, Rouillon mengukur payudara dan mempelajari 300 responden wanita dengan kisaran usia 18 sampai 35 tahun. Selanjutnya, beberapa dari responden diminta untuk tidak mengenakan bra selama satu tahun.

Hasilnya, mereka yang tak mengenakan bra memiliki payudara lebih kencang dan sehat, dibandingkan yang tetap rutin mengenakan bra. Hal ini dibuktikan dengan ukuran puting yang lebih tinggi sebanyak 7 milimeter dan payudara mereka ditemukan lebih kenyal.

Lalu, responden yang diminta untuk mengenakan bra secara rutin mengaku sering mengalami nyeri punggung dan payudara terasa mengendur dari waktu ke waktu.

Salah satu responden yang selama setahun tak mengenakan bra, Capucine Vercellotti (28), dalam kurun waktu tersebut mengaku tubuhnya lebih segar, lebih mudah bernapas, dan merasa sehat. “Awalnya memang agak aneh. Sebab, saya terbiasa mengenakan bra setiap hari. Namun, lima menit setelah mulai tak mengenakan bra, saya tak merasakan kejanggalan. Saya tak memiliki masalah tanpa bra,” katanya kepada Agence France-Presse.

Namun demikian, Rouillon tidak menyarankan semua wanita yang membaca hasil studi ini untuk serta-merta langsung tak mengenakan bra. Sebab, penelitiannya ini tidak melibatkan semua perwakilan dari populasi wanita di dunia.

Bagaimana menurut Anda, lebih baik mengenakan bra atau tidak sama sekali?