Alasan Pantang Cuci Pakaian dengan Air Panas

Merendam di dalam air dan larutan deterjen kemudian membilasnya dengan air bersih adalah cara mencuci pakaian yang benar. Namun, untuk menghilangkan noda membandel pada pakaian, banyak orang yang memilih merendamnya di dalam air panas terlebih dahulu sebelum mencucinya dengan detergen. Padahal cara ini mampu merusak pakaian.
Di bawah ini adalah beberapa alasan mengapa Anda tidak seharusnya merendam pakaian di dalam air panas, seperti yang dilansir dari Boldsky.
Pakaian menyusut
Jika Anda berpikir bahwa merendam pakaian di dalam air panas akan menghilangkan kotoran dan noda dari kain, Anda perlu berpikir dua kali. Air panas akan menyebabkan pakaian menyusut dan membuatnya terlihat lebih kecil sehinga saat dikenakan akan terasa ketat.
Warna memudar
Air panas memiliki kemampuan untuk mengambil warna kain. Hal ini karena suhu air mempengaruhi warna kain. Jika telah terlanjur merendam pakaian kesayangan di dalam air panas dan warna pakaian luntur, segera ambil pakaian dan rendam di dalam air dingin. Ini akan mencegah pakaian Anda kehilangan lebih banyak warna.
Benang mengendur
Air panas juga melemahkan struktur benang kain. Sama halnya dengan menggunakan kuas untuk menggosok noda atau kotoran dari pakaian.
Selain itu, perhatikan beberapa hal yang patut Anda pertimbangkan sebelum merendam pakaian di dalam air panas berikut ini:
Baca label pakaian
Selalu membaca label pada pakaian. Lihat petunjuk untuk mengetahui apakah pakaian tersebut aman dicuci menggunakan air panas.
Uji coba
Lakukan uji coba terlebih dahulu pada sebagian kecil dari potongan kain sebelum merendam pakaian di dalam air panas. Biarkan selama 4-5 menit. Jika kain tidak kehilangan warna atau menyusut, Anda bisa berendam pakaian di dalam air panas dengan aman.
Waktu rendam
Jangan rendam pakaian Anda di dalam air panas lebih dari 10-15 menit. Ini dapat membuat kain menyusut.
Gunakan air hangat
Jika Anda tak punya pilihan lain untuk menghilangkan noda di pakaian, lebih baik gunakan air hangat. Itu akan melindungi pakaian dari kerusakan yang disebabkan suhu air yang panas.
Alternatif lainnya
Jika Anda menyukai pakaian Anda, maka hindari menggunakan air panas kecuali jika benar-benar diperlukan. Anda dapat menghapus noda dari pakaian dengan menggunakan alternatif lain seperti lemon, baking soda atau cuka putih.

Desain Busana Terinspirasi atau Menjiplak? Cermati Perbedaannya

145720_cover

Jakarta – Tren fashion selalu berputar, inspirasi rancangan pun bisa datang dari mana saja. Maka bukan hal yang aneh lagi jika rancangan antara desainer yang satu mempunyai kemiripan dengan desainer lainnya. Sebuah rancangan bisa dipertanyakan orisinalitasnya apabila terlalu banyak kesamaan baik dari segi potongan, styling hingga penempatan detail.

Ketika seorang desainer dinilai telah menjiplak karya seseorang maka bisa disebut sebagai pelanggaran hak cipta. Namun persoalan jiplak-menjiplak ini harus dicermati dengan teliti karena kreativitas berasal dari sebuah ide yang sifatnya tak kasat mata dan mungkin saja muncul secara bersamaan.

Pengacara yang juga konsultan Hak Kekayaan Intelektual, Ari Juliano Gema menjelaskan bahwa sebuah desain busana bisa dianggap memiliki hak cipta apabila ada unsur karya seni sebagai elemen pada rancangannya. Misalnya seni gambar seperti motif, atau bentuk-bentuk khas yang digunakan dalam desain tersebut.

“Tinggal dilihat saja misalnya ada satu desainer yang punya motif tertentu lalu diambil oleh pihak lain. Maka pihak tersebut dapat diduga telah melanggar hak cipta baik berupa seni gambar ataupun lukis. Dengan catatan jika itu dia ciptakan sendiri, orisinil, sesuatu yang unik yang orang lain belum pernah ciptakan,” urai Ari saat berbincang dengan Wolipop lewat telepon, Kamis (14/11/2014).

Menurut Ari lagi, sebenarnya tidak ada patokan atau indikator yang pasti untuk menyebut seseorang telah menjiplak sebuah karya atau tidak sebab batasan antara terinspirasi dan mencontek sangatlah tipis. Namun bukan berarti tidak bisa dibedakan. Orang yang terinspirasi karya desainer tertentu umumnya hanya mengambil ide namun diwujudkan dalam bentuk yang sama sekali berbeda.

Lain lagi dengan adaptasi, inilah yang lebih biasa disebut orang dengan plagiat. Adaptasi umumnya akan menghasilkan karya yang sama atau sangat mirip bentuknya. Kalaupun berbeda hanya terletak pada warna atau pemakaian materialnya.

“Misalnya ada orang gambar burung sebagai motif baju. Lalu orang lain terinspirasi membuat gambar burung juga tapi warna, ukuran juga bentuk paruh dan lain-lainnya berbeda. Cuma gambarnya burung. Kalau adaptasi ya menjiplak. Misalnya bentuk sama tapi warnanya saja dibedakan. Adaptasi harus dengan izin sementara inspirasi nggak perlu,” jelas pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.

Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Taruna K. Kusmayadi menambahkan, “Misalnya bunga mawar, warna dan jenisnya persis sama, ukuran sama, tempatnya sama, walaupun warnanya berbeda iya itu benar (menjiplak). Kalau terinspirasi atau tren nggak mungkin penempatannya sama, bahan sama, detail sama.”

Ari menegaskan, berkarier di industri kreatif sudah pasti mewajibkan seseorang untuk menjadi sekreatif mungkin. Bila sampai meniru karya orang lain, itu adalah hal substansial yang tidak baik dan jelas tidak diperbolehkan. Senada dengan Ari, Taruna juga mengimbau para pelaku industri kreatif untuk tidak menjiplak hasil kerja orang lain.

“Kalau gitu apa dong bedanya dengan penjahit,” pungkasnya.

Pusat Fashion Dunia

London: Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, London akhirnya dinobatkan sebagai pusat fashion dunia terbaru. Ibu kota Inggris itu berhasil mencapai posisi teratas dan menggeser New York ke posisi kedua dalam daftar pusat fashion dunia ini.

Seperti dilansir DailyMail.co.uk, Kamis (18/8), London juga mengalahkan kota-kota lainnya seperti Paris, Milan, dan Los Angeles dalam daftar yang dibuat oleh organisasi Global Language Monitor, pelacak tren di media cetak dan sosial. Organisasi ini menemukan London bergeser dari tempat ketiga ke pertama dalam beberapa tahun belakangan ini.

Pergeseran ini diyakini banyak dipengaruhi berkat kepopuleran ‘Duchess of Cambridge’ Kate Middleton sebagai fashionista dan kematian tragis perancang busana ternama Inggris, Alexander McQueen. McQueen bunuh diri pada Februari 2010, tetapi kerajaan modenya terus berkembang hingga saat ini.

Duchess, yang populer dengan reputasinya sebagai trendsetter fashion sejak muncul di Royal Wedding, April lalu, memilih perancang ternama Sarah Burton untuk membuat gaun pernikahannya. Sementara, beberapa pakar industri fashion percaya bahwa berakhirnya serial “Sex and The City” itu juga memberikan kontribusi untuk turunnya New York di peringkat global.(JAY/ULF)

Berikut 10 daftar kota pusat fashion di dunia:

1. London

2. New York

3. Paris

4. Milan

5. Los Angeles

6. Hong Kong

7. Barcelona

8. Singapora

9. Tokyo

10. Berlin