Cara bikin Restoran Lebih Laris

Ketika memasuki sebuah rumah makan, kamu pasti sudah punya bayangan makanan atau menu tertentu. Namun, mungkin pula kamu akan terbuka pada saran dari orang lain soal penentuan makanan.

Hal tersebut merupakan kesempatan yang dicari para peracik dan konsultan menu. Di balik layar, bahkan sebelum kamu memikirkan makan malam, mereka sudah memikirkannya terlebih dahulu, mereka memikirkan caramu memilih makanan yang akan kamu makan.

Bila saat ini kamu juga bisnis yang sama, ada jurus-jurus yang bisa kamu tiru untuk membuat pelangganmu mau mengeluarkan uang lebih banyak ketika datang ke rumah makan milikmu.

Tak memperlihatkan harga

Informasi mengenai harga merupakan hal utama yang harus dihindari sebuah rumah makan dalam menunya. Sebab, hal ini akan mengingatkan para konsumen bahwa mereka akan mengeluarkan uang untuk makan.

Menurut hasil riset Cornell University School of Hotel Administration, konsumen yang diberi menu tanpa harga mau mengeluarkan uang jauh lebih banyak ketimbang menu yang dilengkapi informasi harga.

Angka yang ganjil

Para perancang menu selalu mematok harga secara genap. Misalnya, jangan memberi harga ganjil seperti Rp20.900. Sebaiknya ubah menjadi Rp20.500, karena harga tersebut terkesan jauh lebih ‘bersahabat’ dan tak menyorot nilai dari makanan, melainkan kualitasnya.

Selain itu, tak membuat harga aneh juga akan membuat proses perhitungan menjadi lebih sederhana dan langsung pada intinya.

Bahasa deskriptif

Para peneliti dari Cornell University mengungkap, makanan yang digambarkan dengan cara yang lebih indah akan lebih menggoda konsumen. Menurut riset lanjutan dari University of Illinois at Urbana-Champaign, label menu deskriptif mampu mendongkrak penjualan sebesar 27%.

Menurut laporan NBC, perancang menu Greg Rapp memberi contoh penulisan ‘Maryland Style Crab Cakes’. Makanan ini dijelaskan dengan ‘dibuat dengan tangan, dengan daging kepiting jumbo, sentuhan mayonais, bumbu rahasia racikan sendiri, dan taburan yang memperkaya makanan’.

Penjelasan tersebut ternyata mampu memberi pengalaman sensorik pada pembaca dan membuat konsumen lebih puas setelah menyantap makanan.

Setelah mengetahui jurus untuk menyusun menu, harga dan bahasa yang bisa kamu gunakan ketika membuat menu, masih ada beberapa jurus yang bisa kamu gunakan lagi.

Hubungkan makanan dengan keluarga

Konsumen ternyata tertarik pada nama-nama keluarga, misalnya orang tua atau kakek-nenek, pada menu. Misalnya, orang punya kecenderungan untuk membeli makanan dengan label ‘Masakan Nenek’ atau biskuit buatan rumah atau ‘Kedai Bibi Dini’.

Cara tersebut bisa memberi kesan nostalgia.

Gunakan istilah makanan etnis

Menurut psikolog eksperimental Oxford Charles Spence, label etnis seperti nama Jawa, Sunda atau lainnya mampu menarik perhatian pada menu tertentu dan mengeluarkan rasa dan tekstur tertentu.

Visual menyolok

Ketika nama makanan ditulis secara menyolok dan didaftar secara berwarna warni atau menggunakan huruf yang unik disertai foto, hal tersebut akan membuat menu tertentu tampak lebih menarik.

Namun, rumah makan kelas atas biasanya cenderung menghindari strategi ini karena mampu membuat menu tampak kaku.

Gunakan barang mahal untuk menarik perhatian konsumen

Menurut Rapp, rumah makan kerap menggunakan makanan sangat mahal sebagai pancingan. “Kamu mungkin tak akan membelinya, namun kamu akan menemukan sesuatu yang lebih murah dan itu akan tampak lebih masuk akal,” katanya.

Perancang menu William Poundstone mengungkap, tujuan utama makanan berharga paling mahal dalam sebuah menu adalah untuk membuat segala sesuatu di dekatnya tampak lebih masuk akal.

Tawarkan makanan dalam dua ukuran porsi

Strategi ini dikenal dengan bracketing. Konsumen tak tahu seberapa lebih kecil porsi kecil, jadi mereka berasumsi bahwa porsi lebih kecil punya harga lebih murah.

Apa yang mereka tak sadari adalah, rumah makan sebenarnya memang ingin menjual porsi lebih kecil dengan harga lebih murah dan menggunakan porsi lebih besar dengan harga lebih mahal sebagai perbandingan saja.

Analisis pada pola baca konsumen

Cara baca konsumen ternyata bisa menjadi bahan untuk menentukan menu. Hasil riset di Korea, sepertiga responden cenderung memesan makanan pertama yang berhasil menarik perhatian mereka.

Hasilnya, rumah makan akan menempatkan masakan paling laris di sisi kanan atas. Alasannya, sisi tersebut merupakan tempat pertama orang melihat.

Sebagai tambahan, jangan lupa untuk membangun suasana dengan memainkan musik klasik, cara ini mampu membuat konsumen mengeluarkan uang lebih untuk makan.

Selamat mencoba.