Fashion Week Indonesia 2013

Tahun Depan, IFW Bergabung dengan World Fashion Week

Penulis : Christina Andhika Setyanti | Selasa, 18 September 2012 | 18:41 WIB
KOMPAS/PRIYOMBODO
Suasana stan peserta pameran yang menawarkan produk lokal pada acara Indonesia Fashion Week 2012 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (23/2/2012). Kegiatan tersebut sebagai upaya menumbuhkan kecintaan pada produk lokal dan mempromosikan produk Indonesia ke pasar internasional.

KOMPAS.com – Dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai pusat mode dunia di tahun 2025 mendatang, Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) kembali menyelenggarakan ajang fashion terbesar di Indonesia, yaitu Indonesia Fashion Week 2013 (IFW). Ajang ini akan digelar pada 14-17 Februari 2013 di Jakarta Convention Center.

“Adanya ajang IFW ini menunjukkan bahwa fashion bukan hanya milik kaum elit, tapi juga milik semua orang,” ungkap Taruna K. Kusmayadi, Ketua Umum APPMI, saat konferensi pers di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (18/9/2012).

Tahun depan, IFW memantapkan diri menjadi bagian dari fashion week dunia. Hal ini ditandai dengan bergabungnya IFW dengan World Fashion Week yang berkantor pusat di New York, Amerika, dan International Fashion Week yang berpusat di Brisbane, Australia. Untuk itu IFW akan mengadopsi standar fashion week dunia, baik dalam segi skala pameran maupun kualitas produk seperti produk berkonten lokal namun berdesain global.

Senada dengan Taruna, Gusmardi Bustami, SH, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, mengungkapkan bahwa peningkatan inovasi berbagai produk lokal yang berselera global akan memberi peluang penguasaan pasar lokal.

Di tahun kedua ini, IFW masih menghadirkan empat elemen utama, yaitu fashion show, exhibition, talkshow, dan kompetisi. Namun, IFW akan menghadirkan tema yang berbeda, yaitu Avant Garde (cocktail and party) pada hari pertama, Muslim pada hari kedua, Men and Urban Contemporary pada hari ketiga, dan Casual Cutting Edge pada hari keempat.

Konsep baru IFW
Dalam penyelenggaraan mendatang, IFW juga akan menghadirkan konsep baru dalam beberapa segmennya. Segmen fashion show, misalnya, akan dibagi menjadi empat tipe, yaitu prime show(koleksi busana siap pakai karya desainer yang go international), semi prime (koleksi busana desainer muda berbakat), show tunggal (karya tunggal desainer Indonesia), dan non stop runways (fashion show non stop dari 30 desainer).

Konsep baru yang juga diusung oleh IFW adalah adanya zona baru yang menarik, yaitu starting point, concept point, dan green pointStarting point merupakan zona pameran para desainer untuk diproduksi dalam jumlah besar. Zona concept point akan memfasilitasi peserta pameran yang sudah memiliki konsep brand lengkap dari baju wanita, pria, dan aksesori, yang disiapkan untuk ekspor. Sementara green point merupakan zona pembelajaran akan produk fashion yang ramah lingkungan.

“Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan memasuki green industry di mana industrinya akan bergerak ke arah industri ramah lingkungan untuk menghasilkan green product,” jelas Sakrie Widianto, staf ahli dari Kementerian Perindustrian.

Yang tak kalah penting, IFW juga akan mengadakan dua jenis kompetisi, yaitu Indonesia Fashion Entrepreneur Competition, dan Indonesia Accessories Entrepreneur Competition, yang bertujuan melahirkan desainer aksesori yang kreatif, berkonsep, dan berjiwa bisnis.

Editor :
Dini

Jutaan Orang merana Karena MP3 Bajakan

Achmad Rouzni Noor II – detikinet
Kamis, 13/09/2012 16:10 WIB

Ilustrasi (Ist.)

Jakarta – Para pelaku di industri musik memiliki harapan besar terhadap era digitalisasi. Namun sayangnya, di segmen digital ini pembajakan kian merajalela. Imbasnya, jutaan orang di industri musik dalam negeri ikut merana.

Penggiat Heal Our Music Heru Nugroho mengungkapkan, dampak dari kegiatan bisnis lagu ilegal secara digital dalam bentuk seperti MP3 bajakan dan sejenisnya, telah merembet ke masalah sosial karena banyak pekerja musik yang menganggur.

“Ada sekitar 2,6 juta jiwa yang terkena dampak sosial karena maraknya lagu ilegal. Orang-orang ini bergantung pada industri musik,” paparnya di hadapan sejumlah media, di Jakarta, Kamis (13/9/2012).

Dikatakan Heru, sebenarnya pelaku di industri musik memiliki harapan besar terhadap era digitalisasi guna menghindari dari pembajakan dan menjaga datangnya pendapatan di masa depan.

“Era digital membuat adanya peluang usaha terutama untuk menjaga distribusi tidak dibajak oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab,” jelasnya.

Diharapkan, seluruh pemangku kepentingan di industri musik bahu-membahu untuk mendukung dan melindungi mekanisme distribusi melalui digitalisasi agar industri dalam negeri, terutama para musisi bisa benar-benar bisa ikut menikmati keuntungan dari kemajuan teknologi.

“Eksistensi para musisi harus diperhatikan. Semoga era digital bisa mengubah kondisi para musisi yang di era analog tidak cukup punya daya tawar,” kata Heru.

Sebelumnya, Kementerian Kominfo telah memblokir sejumlah situs yang mereka yakini menawarkan musik bajakan di internet. Aksi pemblokiran situs-situs yang menyediakan lagu digital ilegal ini ternyata belum memuaskan para musisi lokal.

“Kegiatan ilegal dalam bidang musik sampai kapan dan dimana pun akan selalu ada. Hal yang membedakan cuma kualitas dan kuantitasnya,” ungkap Abdee Slank dalam diskusi tentang musik legal yang digagas Heal Our Music di Jakarta.

Menurut Abdee, fenomena penyediaan lagu ilegal itu sudah menjadi fenomena dan merugikan para musisi.

“Ini sudah mendunia. Tetapi di Indonesia ini tergolong parah. Apalagi di era digital sekarang ini dimana semua pihak yang berkepentingan belum mempersiapkan diri, termasuk pemerintahnya,” katanya.

Musisi lainnya, Adi KLA menambahkan, jika beberapa waktu lalu para musisi terkesan tidak memberikan perhatian ke perkembangan lagu digital karena adanya Ring Back tone (RBT).

Namun, seusai adanya tsunami konten pada Oktober 2011, dimana banyak RBT di-unreg massal, mengakibatkan para musisi menjadi tertekan.

“RBT hanya sebuah tren yang bersifat non permanen. Anehnya di Indonesia, RBT itu laris dan menjadi tren. Padahal di luar negeri sudah tidak berkembang,” katanya.

( rou / ash )