Hidup Bertertangga

Para pemilik pekarangan yang bertetangga mempunyai hak dan kewajiban satu sama lain. Hak dan kewajiban itu timbul karena letak pekarangan maupun karena hukum.

1. Pekarangan

  • Pemilik pekarangan yang lebih rendah letaknya, demi kepentingan pemilik pekarangan yang lebih tinggi, berkewajiban menerima air yang mengalir ke pekarangannya karena alam, lepas dan campur tangan manusia.
  • Pemilik pekarangan yang Iebih rendah tidak boleh membuat tanggul atau bendungan yang menghalang-halangi aliran air tersebut.
  • Pemilik pekarangan yang lebih tinggi tidak boleh berbuat sesuatu yang memburukkan keadaan air bagi pekarangan yang lebih rendah.

2. Mata Air

  • Jika seseorang mempunyai mata air di pekarangannya, maka ia berhak menggunakan mata air itu sesuka hatinya. Tapi ia tidak boleh mengurangi hak pemilik pekarangan yang lebih rendah.
  • Pemilik mata air tidak boleh mengubah jalan aliran air, bila air itu merupakan kebutuhan mutlak bagi para penduduk sebuah kota, desa atau dusun. Dalam hal demikian, pemilik berhak minta ganti rugi. Ganti rugi ini nilainya ditentukan oleh tenaga-tenaga ahli. Pengecualian: jika penduduk tersebut telah memperoleh hak memakai air itu berdasarkan undang-undang atau karena lewat waktu.
  • Pemilik pekarangan di tepi aliran air yang bukan milik umum, boleh menggunakan air tersebut guna menyiram pekarangannya.
  • Jika pekarangan dilalui oleh aliran air, maka ia boleh menggunakan air itu pada jalur tanah yang dilalui air itu untuk keperluan sesuatu, asal saja pada akhir jalur itu air dapat mengalir menurut alam.
  • Bila antara pemilik-pemilik beberapa pekarangan yang berkepentingan atas kegunaan air timbul perselisihan, maka dalam memberi keputusan, Hakim harus berusaha menyesuaikan kepentingan pertanian umum dengan kebebasan hak milik, dan dalam semua hal ia harus bertindak sesuai dengan peraturan dan kebiasaan khusus setempat mengenai jalannya arus air, tingginya dan pemakaiannya.

3. Perbatasan

  • Tiap pemilik pekarangan dapat mengharuskan masing-masing pemilik pekarangan yang bertetangga untuk membuat tanda perbatasan antara pekarangan mereka. Pembuatan batas itu harus dilakukan atas biaya bersama.
  • Pada prinsipnya setiap pemilik boleh menutup pekarangannya. Namun jika ada pemilik sebidang tanah/pekarangan yang terletak di antara tanah-tanah orang lain sedemikian rupa sehingga ia tidak mempunyai jalan keluar sampai ke jalan/perairan umum, maka ia berhak menuntut kepada pemilik-pemilik pekarangan tetangganya, supaya diberi jalan keluar untuknya dengan kewajiban untuk membayar ganti rugi, seimbang dengan kerugian yang diakibatkannya.
  • Pemilik yang menutup pekarangannya, kehilangan hak untuk menggembalakan ternaknya di tempat pengembalaan bersama.
  • Semua tembok yang dipergunakan sebagai tembok batas antara bangunan/tanah/taman/kebun, dianggap sebagai tembok batas milik bersama, kecuali jika ada sesuatu alas hak atau tanda yang menunjukkan sebaliknya.
  • Tiap pemilik peserta tembok batas milik bersama boleh memasang talang pada bagian kepunyaannya, mengalirkan air ke pekarangannya/jalan umum, asal hal itu tidak dilarang oleh undang-undang atau peraturan pemerintah.
  • Pemilik peserta yang tidak memberikan sumbangan untuk mempertinggi tembok batas milik bersama, boleh memperoleh pemilikan bersama atas bagian yang dipertinggi itu, asal membayar:

  • separuh biaya yang telah dikeluarkan
  • separuh harga tanah untuk memperlebar tembok.

  • Tembok tidak boleh dijadikan tembok milik bersama tanpa dikehendaki pemiliknya.
  • Setiap tetangga atas biaya sendiri boleh mendirikan tembok bersama sebagai penggantian pagar bersama.

4. Air Buangan

  • Setiap pemilik pekarangan wajib mengatur atap rumah agar air hujan mengalir ke halamannya/jalan umum. Ia tidak boleh mengalirkan air ke pekarangan tetangganya.
  • Tiada seorang pun diperbolehkan mengalirkan air/kotoran melalui saluran pekarangan orang lain, kecuali jika ia memperoleh hak untuk itu.

6. Hal-hal yang membahayakan

  • Semua bangunan/pipa asap/tembok/pagar/tanda perbatasan lainnya, yang karena tuanya/dikuatirkan runtuh/membahayakan pekarangan tetangga harus dibongkar/dibangun kembali/diperbaiki atas teguran pertama pemilik pekarangan tetangga itu.
  • Barangsiapa menggali sumur/selokan/kakus/mendirikan pipa asap/perapian/ dapur/kandang/tempatrabuk/ gudang bangunan yang merugikan/ membahayakan, maka ia wajib membuat jarak antara tembok dengan bangunan tersebut agar tidak menimbulkan kerugian bagi pekarangan yang berdekatan.

7. Milik Bersama

  • Tempat air hujan, sumur, kakus, selokan dan sebagainya yang merupakan milik bersama antara mereka yang bertetangga, harus dipelihara dan dibersihkan atas biaya semua pemilik.
  • Tiap pagar tanaman yang menjadi batas antara dua pekarangan dianggap milik bersama, kecuali bila memang ada bukti pemilikan yang menyatakan sebaliknya. Pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang pagar milik bersama. Tiap pemilik berhak menuntut supaya pohon itu ditebang.
  • Kita boleh menuntut tetangga supaya membuat pagar yang baru dengan biaya bersama. Syarat: pagar lama milik bersama dan digunakan untuk menunjuk batas pekarangan mereka.
  • Menanam pohon/pagar hidup yang tinggi tumbuhnya dilarang, kecuali jika ditanam dengan mengambil jarak menurut peraturan khusus/kebiasaan yang berlaku. Bila tidak ada peraturan/kebiasaan minimal mengambil jarak dua puluh telapak dari garis batas kedua pekarangan. Jika tidak tetangga berhak menuntut pohon/pagar hidup itu dimusnahkan.
  • Jalan setapak/lorong/jalan besar milik bersama dan beberapa tetangga yang digunakan untuk jalan keluar bersama, tidak boleh dipindahkan/dirusak/dipakai untuk keperluan lain kecuali dengan izin dari semua yang berkepentingan.***

Leave a Reply