Jutaan Orang merana Karena MP3 Bajakan

Achmad Rouzni Noor II – detikinet
Kamis, 13/09/2012 16:10 WIB

Ilustrasi (Ist.)

Jakarta – Para pelaku di industri musik memiliki harapan besar terhadap era digitalisasi. Namun sayangnya, di segmen digital ini pembajakan kian merajalela. Imbasnya, jutaan orang di industri musik dalam negeri ikut merana.

Penggiat Heal Our Music Heru Nugroho mengungkapkan, dampak dari kegiatan bisnis lagu ilegal secara digital dalam bentuk seperti MP3 bajakan dan sejenisnya, telah merembet ke masalah sosial karena banyak pekerja musik yang menganggur.

“Ada sekitar 2,6 juta jiwa yang terkena dampak sosial karena maraknya lagu ilegal. Orang-orang ini bergantung pada industri musik,” paparnya di hadapan sejumlah media, di Jakarta, Kamis (13/9/2012).

Dikatakan Heru, sebenarnya pelaku di industri musik memiliki harapan besar terhadap era digitalisasi guna menghindari dari pembajakan dan menjaga datangnya pendapatan di masa depan.

“Era digital membuat adanya peluang usaha terutama untuk menjaga distribusi tidak dibajak oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab,” jelasnya.

Diharapkan, seluruh pemangku kepentingan di industri musik bahu-membahu untuk mendukung dan melindungi mekanisme distribusi melalui digitalisasi agar industri dalam negeri, terutama para musisi bisa benar-benar bisa ikut menikmati keuntungan dari kemajuan teknologi.

“Eksistensi para musisi harus diperhatikan. Semoga era digital bisa mengubah kondisi para musisi yang di era analog tidak cukup punya daya tawar,” kata Heru.

Sebelumnya, Kementerian Kominfo telah memblokir sejumlah situs yang mereka yakini menawarkan musik bajakan di internet. Aksi pemblokiran situs-situs yang menyediakan lagu digital ilegal ini ternyata belum memuaskan para musisi lokal.

“Kegiatan ilegal dalam bidang musik sampai kapan dan dimana pun akan selalu ada. Hal yang membedakan cuma kualitas dan kuantitasnya,” ungkap Abdee Slank dalam diskusi tentang musik legal yang digagas Heal Our Music di Jakarta.

Menurut Abdee, fenomena penyediaan lagu ilegal itu sudah menjadi fenomena dan merugikan para musisi.

“Ini sudah mendunia. Tetapi di Indonesia ini tergolong parah. Apalagi di era digital sekarang ini dimana semua pihak yang berkepentingan belum mempersiapkan diri, termasuk pemerintahnya,” katanya.

Musisi lainnya, Adi KLA menambahkan, jika beberapa waktu lalu para musisi terkesan tidak memberikan perhatian ke perkembangan lagu digital karena adanya Ring Back tone (RBT).

Namun, seusai adanya tsunami konten pada Oktober 2011, dimana banyak RBT di-unreg massal, mengakibatkan para musisi menjadi tertekan.

“RBT hanya sebuah tren yang bersifat non permanen. Anehnya di Indonesia, RBT itu laris dan menjadi tren. Padahal di luar negeri sudah tidak berkembang,” katanya.

( rou / ash ) 

Leave a Reply