Porteegoods, startup yang jamin kemiripan hingga 90 persen untuk semua pesanan sepatu kulit custom-made – Yahoo News Indonesia

Porteegoods-thumb

Saya terkesan dengan pendapat Natali Ardianto (co-founder dan CTO Tiket) dalam artikel Tech in Asia spesial edisi lebaran bahwa alasan utama mendirikan startup sejatinya adalah menyelesaikan masalah yang ada di sekitar. Alasan yang sama diterapkan oleh Porteegoods sebagai startup penyedia layanan sepatu kulit custom-made dengan tingkat akurasi kemiripan yang optimal. Apa yang membuat Porteegoods berani menjamin kualitas tersebut?

Didirikan di Bandung pada awal tahun 2011, Porteegoods merupakan startup yang menyediakan layanan pembuatan sepatu kulit hand made yang bisa dikustomisasi sesuai keinginan konsumen. Gunantyo Suci selaku founder mengungkapkan bahwa fenomena bisnis sepatu kulit custom-made di Indonesia tidak memerhatikan kualitas dibandingkan layanan serupa yang ditawarkan dari luar negeri seperti Trickers dari Inggris. Sayangnya layanan sepatu kulit custom-made buatan luar negeri tentu saja memiliki harga yang mahal. Permasalahan menonjol lainnya dari bisnis sepatu custom-made di Indonesia yaitu kemiripan desain yang diinginkan konsumen tidak sesuai dengan hasil sepatu yang telah dibuat. Inilah alasan yang mendasari Gunantyo untuk mendirikan Porteegoods demi menjembatani demand akan sepatu kulit custom-made dari market lokal, dengan harga yang relatif lebih kompetitif tanpa mengabaikan kualitas, hingga tingkat akurasi kemiripan sebesar 90 persen.

90 persen mirip!

Gunantyo – yang merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual dari Ars International University, Bandung– memiliki strategi tertentu untuk memenuhi keinginan konsumen agar sepatu yang mereka rancang sendiri bisa dibuatkan semirip mungkin. Berawal dari pengamatan Gunantyo bahwa kesalahan umum pelaku bisnis sepatu custom-made di Indonesia yaitu benar-benar menawarkan custom model dalam artian konsumen bisa mengirim foto atau gambar model sepatu apapun sebebas mungkin. Faktanya banyak sekali konsumen yang kecewa dengan model layanan seperti itu karena mereka menerima hasil sepatu custom yang tidak sesuai dengan foto atau gambar yang telah dikirim sebelumnya.

Untuk mencapai kemiripan sepatu custom dengan akurasi hingga 90 persen, Porteegoods menyiapkan website untuk melakukan pre-order sepatu custom-made ini dengan konten yang yang telah diatur sedemikian rupa dengan template-template tertentu. Misalnya ketika saya mencoba layanannya, saya hanya dihadapkan pada pilihan tiga jenis sepatu saja, yaitu: Derby, Chukka, dan Boots.

Setelah saya memilih jenis sepatu yang diinginkan, website ini memberikan keleluasaan untuk melakukan mix and match dengan menyediakan beberapa pilihan penyesuaian mulai dari warna, sol, ukuran, hingga jenis kelamin untuk siapa sepatu ini kelak dikenakan yang ada pada katalog Porteegoods. Saya mencoba mendesain sepatu sendiri dengan jenis sepatu Derby, tipe blucher, berwarna tan leather, sol luar menggunakan heels, model sol sepatunya terbuat dari kulit, dan tidak menggunakan bilur pada sol-nya. Semakin menarik, saya bisa melihat live preview dari sepatu yang telah saya desain dalam bentuk animasi (gambar ada di bawah).

Desain-porteegoods-thumb

Dengan model layanan custom yang “dibatasi” ini, jaminan bahwa pesanan dari konsumen dapat dibuatkan dengan mirip hingga 90 persen memang bisa tercapai. Karena model yang terdapat pada katalog Porteegoods adalah desain yang pilihan pola dan warnanya memang sudah mereka miliki dan sudah pernah mereka buat sebelumnya.

Mengapa Porteegoods?

Strategi bisnis lain yang membuat Porteegoods eksis hingga lebih dari tiga tahun lamanya ini yaitu selalu menggunakan bahan dan teknik terbaik dalam pengerjaan sepatu. Porteegoods juga selalu menyesuaikan dengan update perkembangan fashion sepatu dunia karena memang ingin menjadi pionir dalam bisnis sepatu custom-made di Indonesia. Oleh karena itu, Porteegoods tetap mempertahankan konsep produk berupa sepatu klasik yang dapat mengakomodir kehidupan kaum urban masa kini, dengan harga yang relatif kompetitif untuk ukuran sepatu custom-made, namun tetap terlihat modern.

Portfolio-porteegoods-thumb

Itulah alasan Gunantyo menamai brand-nya dengan “Porteegoods” —yang merupakan perpaduan dari bahasa Perancis dan Inggris serta singkatan tertentu— dengan arti “Portee” (bahasa Perancis) yaitu “to wear” dan “goods” singkatan dari “good shoes” dengan harapan bahwa sepatu custom yang harganya cukup tinggi di luar negeri, kini dapat dikenakan oleh semua orang Indonesia dengan harga relatif terjangkau melalui Porteegoods.

Gunantyo sendiri memberikan saran bagi siapapun yang ingin memasuki market startup sejenis Porteegoods ini sebagai berikut:

Anda harus menjalankan bisnis seperti ini secara fulltime, karena bisnis sepatu custom-made ini bukan bisnis mudah.

Konsisten dengan model bisnis made to order shoes

Gunantyo menyebut model bisnis Porteegoods dengan nama “made to order shoes” dimana konsumen bisa memesan sepatu sesuai dengan desain yang diinginkannya sendiri. Harga sepatunya sendiri bervariasi tergantung dari desain yang dipesan konsumen dengan rentang harga mulai dari Rp 550.000 per satu pasang sepatu. Produksi sepatu custom-made ini juga baru akan dimulai setelah konsumen melakukan pembayaran awal (down payment) sebesar Rp 200.000 setelah mendapatkan konfirmasi melalui email. Dengan model bisnis seperti ini, Porteegoods mengklaim telah menghasilkan pendapatan sekitar Rp 100 hingga 120 juta per bulan. Lebih dari tiga tahun ini, Porteegoods menjalankan bisnisnya tanpa pendanaan dari investor luar manapun.

Gunantyo mengungkapkan bahwa tantangan yang dialami dalam menjalankan bisnis Porteegoods ini justru bukan pada masalah penjualan karena memang marketnya sudah ada, melainkan lebih pada kebijakan pemerintah Indonesia yang kurang mendukung dalam bisnis rintisan seperti Porteegoods ini. Selain itu Porteegoods juga mengalami kesulitan dalam mendapatkan modal serta dana untuk pengembangan bisnisnya.

Porteegoods beroperasi di bawah badan hukum CV. Cinzano dengan memiliki pageview rata-rata 10.000 hingga 15.000 per bulan, pengunjung website sekitar 2.000 hingga 3.000 per bulan, konsumen aktif yang memesan sepatu secara online di kisaran 150 hingga 200 orang per bulan, menawarkan lebih dari 30 model sepatu yang berbeda, dan mempunyai 26 pegawai tetap yang terdiri atas tim manajemen sebanyak 6 orang serta tim produksi ada 20 orang. Rencana ke depannya Porteegoods ingin mendirikan toko fisiknya tersendiri.

Gunantyo mengklaim bahwa di Indonesia ini bisnis sepatu custom-made dengan model layanan yang mirip seperti Porteegoods belum ada, terkecuali sepatu custom-made khusus untuk konsumen wanita seperti startup ProjectShoe. Menurut saya startup yang khusus menjual sepatu seperti Brodo juga bisa menjadi kompetitornya sekalipun tidak menyediakan layanan sepatu custom-made.

Leave a Reply