Tempat Makan murah di Manila

Oleh Syanne Susita

Wisata kuliner di Manila amat menarik karena menawarkan pengalaman berbeda. Beberapa tempat dan jenis makanan yang terdapat di kota ini cukup seru. Mulai dari tempat makan sejenis warteg, warung di pinggir pantai, hingga restoran di dalam mal. Camilannya juga bervariasi.

Tetapi ada satu camilan yang tidak sanggup saya makan. Namanya balut, sangat populer. Balut adalah telur bebek yang sudah mengandung embrio, yang dilahap setelah direbus. Camilan ini banyak dijual di pinggir jalan sekeliling Araneta Center.


Pedagang telur balut

Saya memilih mendekat ke penjual mangga — yang paling sering ditemui di mana-mana. Apalagi setelah melihat hasil kupasan mangga yang seperti kipas, terlihat unik. Harganya pun sangat murah. Satu kantong plastik, berisi lima buah, dijual seharga 20 peso (sekitar Rp 5 ribu).


Manisan mangga kering menjadi oleh-oleh andalan dari Manila.

Saya mencoba makan di “warteg ala Manila” di salah satu jalan dekat Araneta Center. Berbeda dengan warteg di Indonesia yang menampilkan makanan di lemari kaca, warteg di sini menghidangkan panci-panci besar yang tertutup rapi. Untuk tahu makanan apa di dalam, kita harus membuka panci satu per satu.

Pilihan saya jatuh pada cumi bakar dengan irisan tomat, gulai daging, dan babi panggang plus nasi. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui harga makanan tadi tidak sampai Rp 20 ribu.

(Oh ya, kaum muslim harus lebih cermat memilih makanan di Manila. Seperti di Taiwan dan Cina, banyak restoran memasukkan babi dalam menu masakan mereka).


Contoh makanan warteg di Manila.


Bentuk warteg di Manila.

Semenjak itu saya langsung percaya diri menjajal restoran di sana. Salah satunya adalah restoran Jepang Haiku yang terletak di Green Belt, Makati. Lagi-lagi harganya jauh lebih murah dibanding restoran Jepang di Jakarta. Paket campuran tempura, yakiniku dan sashimi yang saya pesan tidak lebih dari Rp 50 ribu — sudah termasuk pajak.


Makanan Jepang di Manila.

Saya juga mencoba halo-halo, nama es campur andalan warga Manila di musim panas, di restoran Goldilocks yang bisa ditemukan di hampir setiap mal dan jalan raya Manila. Es campur ini terdiri dari kacang merah, kacang kedelai, jelly, es krim taro dan es serut dan dilumuri susu kental.


Halo-halo, es campur khas Manila.


Kue yang dijual di Goldilocks.

Untuk minum kopi, saya memilih kafe Seattle’s Best dengan pertimbangan kafe waralaba ini belum masuk Jakarta.

Pada malam hari, saya dan beberapa teman pergi makan ke Seaside Paluto Restaurants di daerah Pasay. Jajaran restoran dan kios penjual makanan laut mengingatkan saya pada Muara Angke, Jakarta. Tata caranya pun sama: pengunjung bisa membeli bahan makanan di kios lalu dibawa ke restoran untuk dimasak, atau langsung memilih menu makanan yang sudah jadi.

Tapi bedanya Paluto bersih, dan tiap restoran menyuguhkan hiburan mulai dari band, karaoke, sampai layar besar.


Papan iklan di Paluto.

Saya paling terkesan dengan kuah “sinigang” — kuah khas Manila yang mirip tom yam bening tanpa santan.

Lagi-lagi harga makanan yang murah membuat takjub. Kami masing-masing membayar 400 peso (Rp 80 ribu) untuk ikan dan udang kuah sinigang, calamari, tumis udang, kepiting goreng, ikan bakar dan entah apalagi yang masuk perut saya selama dua jam nangkring di Paluto.


Belanja ikan dulu di Paluto.


Masakan laut di Filipina.

Setelah kenyang, kami beranjak ke salah satu klub di  pinggiran Makati. Seorang teman bercerita, karena orang Filipina amat senang minum dan berpesta, minuman beralkohol dijual dengan harga terjangkau.

Malam itu, sambil menikmati sebotol Jack Daniel, saya mengintip label harganya. Saya kembali terkejut karena hanya sepuluh persen dari harga sebotol di sini. Haiya!

Leave a Reply